Skip to content

Resensi Istana Pasir oleh Rohani Syawaliah

4 April 2012
“Apa aku akan ada di hatimu jika kamu punya dua hati?” desakku.
“Tidak. Bahkan jika aku punya dua hati dua-duanya akan menjadi miliknya,” jawab Ken.
Istana Pasir, Handini Suwarno dan Ana Fauziyah
Kegalauan tentang kehidupan dan begitu banyak tekanan di dunia kerja, ketidaknyamanan yang aku terima dari rekan-rekan kerja akhirnya meledak. Seberapa keras aku bertahan dan seberapa kuat aku bersabar aku tetap manusia yang punya keterbatasan. Sehingga aku melewati malam itu tanpa bisa tidur. Aku menenggak empat butir pil pereda sakit kepala karena aku menangis dari pagi. Di kantor aku menangis di depan rekan-rekan kerjaku yang sama sekali tak menanyaiku mengapa aku menumpahkan air mata.
Mengapa aku menangis? Aku sangat kelelahan. Itu saja. Lelah dengan kehidupan dan mulai (lagi) memikirkan kematian. Dua tahun ini aku tersesat dengan ambisiku sendiri untuk menjadi penyiar radio. Selama ini, sejak kecil aku memang mengimpikan untuk berada di depan sebuah mikrofon yang akan memperdengarkan suaraku di udara. Aku berhasil menembus posisi menjadi penyiar radio dan ketika aku telah mendekap posisi itu hampir dua tahun ternyata aku jenuh. Aku harusnya tidak bosan melakukannya karena aku menyukainya tapi jauh dari semua kenyaan itu yang paling aku sukai sebenarnya hanyalah dunia tulis-menulis. Dunia yang jauh dari riuh-rendah suara.
Ledakan perasaan itu membuat aku menumpahkan semuanya ke dalam layar laptopku. Entah berapa artikel yang aku tuliskan untuk blogku. Aku tak tahu. Tapi aku selalu percaya setiap yang terjadi seperti sebuah starter untuk memicu sesuatu. Itu yang membuatku tidak ragu dengan risiko yang aku tempuh dengan keluar dari dunia kerja yang aku jalani hampir dua tahun. Pasti ada manfaat di ujungnya. Apa pun itu.
Tidak puas dengan menulis akhirnya aku membuka koleksi buku yang belum sempat aku baca hadiah dari kuis yang aku menangkan di twitter. Akhirnya aku memilih buku yang paling tipis. Istana Pasir. Seharusnya buku ini sudah lama aku baca. Tapi karena kelelahan aku selalu melewatkan kesempatan untuk menikmatinya. Belum lagi sampulnya yang kurang berwarna jadinya sendu begitu melihatnya.
Malam galau itu aku memutuskan untuk menuntaskannya. Seperti biasanya aku melahap habis buku tipis tak sampai 150 halaman itu dalam waktu 1 jam. Empat puluh halaman pertama aku sudah tenggelam di dalamnya. Sangat menarik. Itu yang ada di dalam kepalaku. Dialognya yang mengalir, meskipun buku ini Jakarta Sentris, jenis buku yang lebih suka aku hindari karena penggunaan kata sapaan gue-elu-nya, tapi di buku ini gue-elu-nya tidak begitu mengganggu. Pertama gue-elu-nya tidak hadir di luar dialog langsung. Bahkan gue-elu-nya hanya ada di masa perkuliahan tokoh. Saat mereka dewasa penggunaan sapaannya berubah menjadi aku-kamu. Baiklah, saya suka buku ini.
Ceritanya tentang seorang perempuan yang jatuh cinta mati pada seorang lelaki yang mencintai perempuan lain. Mereka menikah dengan cinta hanya ada di satu pihak dan di pihak hati lelaki ada sebuah keinginan untuk membalas cinta perempuan yang dinikahinya. Saya seakan-akan ikut merasakan apa yang tokoh utama tersebut rasakan. Inilah kelebihan buku yang menghadirkan tokoh utamanya dalam sudut pandang orang pertama. Kita akan menganggap diri kita adalah si ‘aku’ yang ada di dalam cerita.
Sebelumnya saya mohon maaf pada penulis buku ini karena pernah menjanjikan akan menuliskan hasil membaca saya di blog, dan baru terealisasikan sekarang.
Buku ini sebenarnya bukan tujuan utama saya saat mengikuti kuis. Waktu itu kuisnya yang menantang sekali. Jadi apa yang akan kita lakukan jika kita dikecewakan oleh orang yang kita cintai. Apa ya tanda pagarnya waktu itu? *tepok jidat* ah benar-benar lupa. Tapi saya waktu itu mengatakan apabila saya dikecewakan lelaki saya akan membuat mereka menyesal. Saya akan menunjukkan pada lelaki yang tidak menghargai cinta saya tersebut bahwa kehidupan saya akan sangat lebih baik tanpa mereka.
Klise? Memang. Namanya juga motivasi buat diri sendiri.
Saya sangat antusias mengikuti kuis tersebut karena saya ingin memberikan motivasi pada banyak orang bahwa cinta yang dikecewakan bisa menjadi cemeti untuk memperbaiki hidup kita. Eh ternyata ikut jadi pemenang. Senang sih. Tapi tidak kuat motivasinya untuk membacanya. Sekarang saya menyesal mengapa tidak membacanya lebih awal karena ternyata ceritanya sangat bagus dan saya berniat untuk membeli buku keduanya. Nah buku ini dwilogi, strategi marketing yang bagus bukan?
Saya yakin penulis buku ini memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk membagi cerita ini menjadi dua buku. Siapa yang bisa meramalkan orang yang telah membaca buku pertama pasti memesan buku yang kedua? Belum tentu bukan? Kecuali penulis buku ini tahu, mereka punya cerita yang kuat untuk mengundang rasa penasaran. Walaupun saya bisa saja menebak cerita ini ke arah happy ending. Tapi bukan itu yang ingin saya tahu. Satu hal yang menggoda adalah bagaimana penulis menyampaikan happy ending tersebut? Prosesnya saudara-saudara. Saya ingin tahu itu.
Dari banyak buku yang dieditori diri pribadi, saya hanya menemukan dua kesalahan pengetikan dan itu tidak begitu menggangggu. Di luar sana banyak penerbit mayor yang juga menyisakan beberapa kata yang salah ketik dan tidak terlewatkan untuk diedit. Tidak ada karya yang benar-benar sempurna bukan? Kesalahan pengetikan dan kesalahan pemahaman terhadap penulisan adalah dua hal yang berbeda dan penulis tidak salah dalam memahami cara penulisan. Ini menurut saya melihat dari dua kesalahan tersebut.
Ah tidak perlu panjang lebar membahas kesalahan. Tulisan saya juga belum tentu sempurna.
Saya suka buku ini karena buku ini juga menghadirkan detail-detail latar tempat sehingga saya merasa seakan-akan ikut melihat apa yang ada di dalam cerita. Diksinya juga keren. Jika saya punya seratus bintang untuk diberikan pada buku ini saya memberikan 98 bintang untuknya. Bagaimana kelanjutannya? Apakah setelah membaca Kenara akan membuat saya tak menyisakan dua bintang di tangan saya lagi? Merelakan 100 bintang untuk dwilogi? Semoga demikian. Sehingga bukan rasa penasaran yang membuat saya menilai buku ini bagus, melainkan karena memang buku ini dan ceritanya yang kuat membuat saya menjadi sangat penasaran.
Novel Istana Pasir

Novel Istana Pasir

Ditulis sepenuh jiwa oleh

 

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 986 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: